Kamis, 19 Juli 2012

KOMPAS.COM


La Femme Patisserie, Mari Bu Memasak dengan Hati...
Penulis : Inggried Dwi Wedhaswary | Minggu, 23 November 2008 | 10:55 WIB
Dibaca: 9
|
Share:
KOMPAS.COM/INGGRIED DWI WEDHASWARY
Komunitas La Femme Patisserie saat melakukan kunjungan ke Pantry Magic, Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu (22/11).
Foto:
KOMUNITAS ibu-ibu berhobi masak semakin hari semakin bertambah saja. Ibu-ibu kreatif ini tak hanya memasak dan dinikmati keluarganya sendiri. Selangkah lebih maju, dari hobi terciptalah peluang bisnis yang tak sekedar srang sreng masakan, tapi juga menghasilkan srang sreng di sisi keuangan.
Salah satu komunitas itu adalah La Femme Patisserie. Sebuah komunitas yang digagas Dhani Satyadharma sejak 2007 dan telah beranggotakan tak kurang dari 130 orang. Semuanya ibu-ibu, namanya saja La Femme.
Ingin tahu sejarah kelahiran dan sepak terjang mereka? Ini ceritanya! Dhani berkisah, komunitas ini awalnya beranggotakan ia dan beberapa temannya yang tinggal di kawasan Bekasi, Jawa Barat. Lama kelamaan, ada keinginan untuk membentuk sebuah wadah yang menampung ia dan ibu-ibu yang mempunyai hobi memasak. Salah satu tujuannya melakukan aktivitas bersama yang bermanfaat dan menambah pengetahuan dalam dunia masak-memasak.
Lalu, mengapa La Femme Patisserie? "Awalnya kami mikir, mau kursus mahal. Gimana ya caranya bisa bikin latihan bareng dengan biaya yang enggak mahal, tetapi hasilnya maksimal. Akhirnya, kami saweran, ngundang guru atau orang yang lebih profesional. Tadinya hanya temen deket, yang ada di wilayah Bekasi. Berjalannya waktu, menyebar di seluruh Jakarta. Bikin milis, terus polling mau namanya apa, ketemu La Femme Patisserie ini," papar Dhani.
Motto, La Femme Patisserie, "cook and bake with heart". "Semua yang berasal dari hati, pasti hasilnya baik. Kita memasak dari hati. Intinya, sekumpulan ibu-ibu yang hobi baking ama cooking, tapi juga bisa menghasilkan. Karena kita melakukan dari hati, pengen apa yang kita lakukan dirasakan orang terdekat, suami dan anak-anak, akhirnya kita semua dapat support dari suami dan anak dan anak-anak," kata Dhani.
Lebih dari setahun keberadaannya, La Femme sudah mengadakan berbagai kegiatan latihan bareng dan mengunjungi berbagai tempat yang ada kaitannya dengan masak memasak. Seperti yang dilakukan pada akhir pekan ini, mengunjungi dan mengikuti demo masak oleh Chef Barry Bahrudin di dapur Elmer, yang dilanjutkan ke Pantry Magic dan mendapat ilmu tambahan memasak dari Linda M, seorang ahli masakan Perancis dan Maroko.
"Pokoknya yang kita jaga, apapun kegiatan yang kita lakukan nggak berorientasi profit. Hanya ingin mengadakan kegiatan yang murah, dapet ilmu, hasilnya maksimal. Kayak hari ini, kita ke Elmer dapet demo 5 resep, kemudian ke Pantry Magic dapet 2 resep, semuanya cuma 150 ribu. Kalau mau ngadain kegiatan kita floor-kan, ada yang punya ide apa nanti kita itung-itung, biayanya berapa," kata ibu dua putri ini.
Hingga saat ini, La Femme beranggotakan tak kurang dari 130 orang yang juga tersebar di Pulau Jawa dan Sumatera. Bahkan, ada pula anggota yang sudah berusia 65 tahun, namun masih bersemangat untuk berbagi. Komunikasi lebih banyak dilakukan melalui milis dan blog www.lafempat.blogspot.com. Bagi yang tak punya akses ngenet, biasanya perkembangan informasi dan kegiatan dilakukan melalui telepon dan pesan singkat.
"Kebanyakan anggota kita wanita bekerja lo, yang masih punya keinginan memasak. Hampir semua juga punya usaha, walau kecil-kecilan. Ada yang belum menikah juga. Dari hobi, melihat ada peluang bisnis dan kita berbagi disini," ujar Dhani.
Hal-hal yang dibagi biasanya mengenai resep-resep makanan baru, dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi saat mencoba sebuah resep. Bagi Tira, yang mengaku masih belum terlalu mahir memasak, bergabung dengan La Femme membuatnya mengalami peningkatan kemampuan.
"Seru ya, walaupun saya baru bergabung sejak bulan Juli. Tadinya nggak pede, karena saya nggak pinter masak, baru pemula. Tapi diajak Mbak Dhani, waktu saya pengen pesen makanan, liat blognya terus diajak. Disini nggak malu kalo mau tanya-tanya. Kan ada komunitas yang isinya udah pinter semua, kita mau tanya yang simpel jadi malu," kata karyawati pada sebuah perusahaan kontraktor ini.
Komunitas ini tak menargetkan bisa menjaring anggota dalam jumlah besar. Semuanya diharapkan berjalan dengan alami. Dengan jumlah anggota yang tak terlalu besar, kedekatan secara emosional dan rasa kekeluargaan justru dapat terbangun.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar